Home » KTI » Pembuatan dan Pengoperasian Rawai Dasar dari Bahan Monofilamen dengan Pengaturan Jarak Umpan dari Dasar Perairan
Hasil Tangkapan Rawai Dasar

Pembuatan dan Pengoperasian Rawai Dasar dari Bahan Monofilamen dengan Pengaturan Jarak Umpan dari Dasar Perairan

PEMBUATAN DAN PENGOPERASIAN RAWAI DASAR DARI BAHAN MONOFILAMEN DENGAN PENGATURAN JARAK UMPAN DARI DASAR PERAIRAN

OLEH : INDRA CAHYA – INSTRUKTUR BPPP AMBON

I. PENDAHULUAN

  • Visi

Sumberdaya laut merupakan salah satu aset penting dalam melaksanakan pembangunan wilayah pesisir. Tantangan sektor usaha perikanan tangkap adalah bagaimana nelayan menguasai ilmu dan teknologi yang dapat menangkap ikan secara optimal, ekonomis dan memperhatikan keberlangsungan kegiatan usaha penangkapan itu sendiri. Nelayan perlu untuk mengetahui alat dan metoda penangkapan yang efektif, menjaga mutu hasil tangkap, memperhatikan keseimbangan ekosistem laut serta efisiensi kegiatan penangkapan ikan.

Rawai dasar merupakan satu alat penangkapan ikan (API) yang sudah dikenal sejak lama. Rawai dasar atau bottom long line merupakan alat penangkap ikan pancing yang terdiri dari tali yang sangat panjang (tali utama / main line) yang secara berderet dengan jarak tertentu dipasang tali – tali pendek (tali cabang / branch line) yang ujungnya diberi mata pancing.  Berbagai model konstruksi dan bahan yang digunakan dalam rawai dasar telah dibuat sedemikian rupa oleh pelaku penangkapan ikan di beberapa negara berdasarkan karakteristik daerah penangkapan, tingkah laku ikan serta ketersediaan bahan pembuatnya.

Sebagai salah satu alat penangkapan ikan yang dikategorikan ramah lingkungan dalam pengaturan ukuran dan jumlah mata, salah satu yang menjadi kendala bagi nelayan di bagian timur Indonesia dalam perikanan rawai dasar adalah terbatasnya kesediaan bahan pembuatan rawai dasar. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Ambon untuk dapat memberikan solusi pembuatan rawai dasar bagi nelayan yang terdapat di daerah dengan keterbatasan bahan pembuatnya.

  • Tujuan dan Manfaat

Tujuan kegiatan kajian ini adalah :

  1. Mengkaji penggunaan bahan-bahan sederhana dalam pembuatan rawai dasar.
  2. Mengkaji pengoperasian rawai dasar dengan konstruksi dan cara pembuatan yang dilakukan.
  3. Meyakinkan pelaksana kajian / instruktur / tenaga pelatih penangkapan ikan bahwa rawai dasar dapat dibuat dengan berbagai teknik dengan keterbatasan bahan yang ada.

Manfaat dari kajian ini adalah :

  1. Sebagai informasi bagi pengembangan rawai dasar skala nelayan kecil dan menengah.
  2. Mengenalkan teknologi sederhana dalam pembuatan rawai dasar.
  3. Meningkatkan kompetensi Instruktur dan tenaga Pelatih di BPPP Ambon

II. TINJAUAN PUSTAKA

  • Rawai Dasar

Rawai dasar adalah suatu alat tangkap yang berbentuk tali panjang yang dibentangkan secara horizontal, pada tali panjang (tali utama) diikatkan tali-tali cabang secara vertikal dan diberi mata kail. Untuk mengetahui adanya alat tangkap di perairan digunakan tanda dengan bantuan pelampung yang dihubungkan oleh tali pelampung. Jenis rawai dasar yang telah umum dikenai berdasarkan jenis ikan tujuan penangkapan adalah rawai kakap dan rawai cucut.

  • Daerah Penangkapan Ikan

Suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta ekonomis. Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Hal ini dapat diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan yang dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka kawasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan demikian pula jika terjadi sebaliknya.

Sebab-sebab utama jenis ikan berkumpul disuatu daerah perairan adalah : Ikan-ikan tersebut memiliki perairan yang cocok untuk hidupnya, mencari makanan, mencari tempat yang sesuai untuk pemijahannya maupun untuk perkembangan larvanya.

  • Ikan Demersal

Ikan demersal adalah ikan yang hidup dan makan di dasar laut dan danau (zona demersal). Lingkungan mereka pada umumnya berupa lumpur, pasir, dan bebatuan, jarang sekali terdapat terumbu karang. Sehingga berdasarkan definisi ini, ikan demersal dapat ditemukan dari lingkungan pantai hingga zona laut dalam (abyssal zone), dan terbanyak ditemukan di lingkungan dekat punggung laut.

Ikan demersal berlawanan dengan ikan pelagis yang hidup dekat dengan permukaan air. Ikan demersal mengandung sedikit minyak (satu sampai empat persen massa tubuhnya), jika dibandingkan dengan ikan pelagis yang dapat mencapai 30 persen. Sehingga ikan demersal termasuk ikan daging putih

  • Umpan

Penggunaan umpan menjadi salah satu faktor keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan rawai dasar. Umpan yang baik dalam pengoperasian rawai dasar adalah ikan segar, tahan lama dalam masa perendaman alat, mampu menarik perhatian pemangsa baik secara visual atau aroma. Umpan yang biasa digunakan adalah cumi-cumi, sotong, gurita, ikan layang, ikan teri, ikan tongkol dan ikan lainnya yang dipotong sesuai bukaan mulut ikan yang menjadi target penangkapan.

III. PELAKSANAAN KAJIAN

  • Waktu dan Lokasi Pengambilan Data (Daerah Penangkapan Ikan)

Pengambilan data kajian ini dilakukan mulai tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 di lokasi pelatihan penangkapan ikan menggunakan rawai dasar di beberapa wilayah kerja BPPP Ambon.

Tabel 1. Waktu dan lokasi pelaksanaan kajian

NO WAKTU PELAKSANAAN LOKASI KAJIAN
1. 25 s.d. 26 Juni 2013 Perairan Kab. Kaimana
2. 23 s.d. 24 Oktober 2013 Perairan Desa Weduarfer Kab. Maluku Tenggara
3. 12 s.d. 13 Februari 2014 Perairan Desa Tondonggeo Kabupaten Kolaka
4. 24 s.d. 25 Oktober 2014 Perairan Desa Bajo Kab. Halmahera Selatan
5. 22 s.d. 23 Mei 2015 Perairan Desa Selayar Kab. Maluku Tenggara
6. 11 s.d 12 Juni 2015 Perairan Kab. Konawe Selatan
  • Desain Rawai Dasar

Desain konstruksi rawai dasar pada kajian ini memiliki konsep sebagai berikut :

  1. Bahan mudah didapatkan oleh nelayan di lokasi kegiatan pelatihan ;
  2. Pembuatannya harus mudah dilakukan nelayan ;
  3. Posisi umpan harus berada di atas dasar laut dengan ketinggian kisaran 1 s.d. 1.25 meter dengan pertimbangan teknis sebagai berikut :
  • Agar umpan tidak tersangkut di karang atau tertutup lumpur dan pasir di dasar laut
  • Agar umpan lebih menarik ikan target ; dengan posisi umpan berada di atas permukaan dasar laut maka umpan akan terlihat sebagai ikan hidup karena pengaruh pergerakan arus.

4. Ramah lingkungan dan menerapkan prinsip perikanan berkelanjutan.

desain rawai dasar

  • Alat dan Bahan

Alat pengambilan data yang digunakan pada kajian ini menggunakan adalah sebagai berikut :

  • Kamera digital
  • Alat tulis
  • Alat pengukur

Rincian alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan kajian sebagaimana pada tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2. Rincian alat dan bahan dalam 1 unit rawai dasar percobaan

NO URAIAN SPESIFIKASI VOLUME SATUAN
1 Tasik / senar PA Monofilamen, 80 – 100 lbs 2 Roll
2 Tasik / senar PA Monofilamen 40 lbs 1 Roll
3 Hook / Mata pancing Galvanized, size no 8 45 Bh
4 Swivel No 1/0, 90 lbs. kuningan 2 Bh
5 Swivel 40 lbs, kuningan 45 Bh
6 Pelampung Y3 PVC 1 Bh
7 Tali PE Ø 5 mm 1 Roll
8 Tali PE Ø 4 mm 2 meter
9 Pelampung Bola Plastik Ø 22 cm 2 Bh
10 Timah 300 gram 1 Bh
11 Jangkar 1 kg 2 Bh

 

  • Teknik Perakitan Rawai Dasar yang Digunakan

Sesuai peruntukannya bagi nelayan pesisir, rawai dasar pada kajian ini menggunakan tali utama dan tali cabangnya menggunakan senar jenis monofilamen dari bahan polyamide (PA) teknik perakitan khususnya penyambungan pada sambungan tali utama dengan tali cabang menggunakan simpul drop loop pada tali utama.

simpul drop loop pada main line

simpul drop loop disambung dengan snap

 

Dengan penggunaan simpul drop loop maka tali cabang dapat disambung pada tali utama dengan cara disambung dengan simpul pada ujungnya atau dengan dicantel dengan rolling snap swivel yang dipasang pada ujung tali cabang.

  • Metode Pengumpulan Data

Data hasil tangkapan dicatat kemudian disajikan dalam tabel secara deskriptif. Ikan hasil tangkapan dominan dianalisis dan semua catatan selama pengoperasian rawai dasar dikumpulkan sehingga menghasilkan rekomendasi.

IV. HASIL KEGIATAN

  • Komposisi Hasil Tangkapan

Selama 12 (dua belas) percobaan pengoperasian rawai dasar percobaan diperoleh ikan hasil tangkapan sebagai berikut pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil tangkapan

No. Nama Ikan /

Nama Lokal

Famili Jumlah (kg)
1. Kakap Lutjanidae 66
2. Lencam / sikuda Lethrinidae 62
3. Kerapu Serranidae 54
4. Kuwe Carangidae 41
5. Kurisi Nemipteridae 22
6. Kakap Putih Centropomidae 4
Total 249

 

Persentase hasil tangkapan dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

1 Gambar total hasil tangkapan

 

Dari gambar persentase hasil tangkapan terlihat bahwa ikan jenis kakap famili Lutjanidae menjadi hasil tangkapan paling dominan 26,51% diikuti ikan lencam (Lethrinidae) 24,90%,  ikan kerapu (Serranidae) 21,69%, ikan kuwe (Carangidae) 16,47%, ikan kurisi (Nemipteridae) 8,84% dan ikan kakap putih (Centropomidae) 1,61%.

 

  • Hasil Tangkapan menurut Lokasi Daerah Penangkapan Ikan
    • Kabupaten Kaimana

Hasil tangkapan di pesisir perairan Kabupaten Kaimana didominasi oleh ikan lencam dengan persentase 30,14%, diikuti oleh ikan kerapu sebanyak 24,66%, ikan kakap sebanyak 21,92%, ikan kuwe 17,81% serta ikan kakap putih sebanyak 5,48%. Ikan lencam menjadi hasil tangkapan paling dominan dikarenakan daehauling rawai dasarrah pesisir yang menjadi daerah percobaan penangkapan merupakan daerah yang sesuai sebagai habitat ikan lencam dan ikan kakap yaitu memiliki sumber daya lamun yang sangat subur.

Kedalaman perairan pada daerah penangkapan ikan tidaklah terlalu dalam yaitu berkisar 6 sampai dengan 15 meter. Sumber daya ikan yang terdapat di pesisir pantai Kabupaten Kaimana sangat kaya akan sumber daya ikan demersal. Daerah ini merupakan daerah yang sangat subur dan gangguan pencemaran di perairan relatif masih rendah. Rawai dasar percobaan dapat dioperasikan dengan tanpa kendala.

  • Desa Weduarfer Kabupaten Maluku Tenggara

Perairan pesisir Desa Weduarfer di Kabupaten Maluku Tenggara merupakan perairan yang masih sangat subur. Dasar perairannya merupakan pasir putih dimana lamun dan karang tumbuh dengan sangat subur. Dengan sebaran karang yang cukup luas terkadang menjadi kendala dalam pengoperasian rawai dasar percobaan ini. Meskipun rawai dasar ini sudah didesain sedemikian rupa agar posisi mata kail berada pada kisaran 1 sampai dengan 1,25 meter diatas permukaan dasar laut, akan tetapi terkadang arus yang kencang membuat mata kail tersangkut di karang. Ikan kerapu yang memakan umpan juga biasanya langsung lari bersembunyi di karang sehingga rawai dasar ikut masuk ke dalam karang, jika terjadi hal seperti ini maka proses hauling atau penarikan rawai dasar akan menjadi lebih lama.Hasil tangkapan rawai dasar

Hasil tangkapan dominan di perairan Desa Weduarfer Kabupaten Maluku Tenggara terdiri atas ikan kerapu dengan persentase 30,26%, ikan kakap 28,95%, ikan kuwe 21,05% dan ikan lencam dengan persentase 19,74%.

Dengan posisinya yang jauh dari lingkungan perkotaan serta dengan sedikitnya jumlah penduduk setempat, Desa Weduarfer merupakan daerah yang relatif masih belum terkena dampak pencemaran. Ikan yang tertangkap memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan daerah penangkapan ikan lainnya.

 

  • Desa Tondonggeo Kabupaten Kolaka

Hasil tangkapan di Desa Tondonggeo Kabupaten didominasi oleh ikan kakap dengan persentase sebanyak 44% diikuti ikan lencam sebanyak 32% dan ikan kerapu dengan persentase sebesar 24%.

  • Desa Bajo Kabupaten Halmahera Selatan

Percobaan penangkapan ikan di perairan Desa Bajo Kabupaten Halmahera Selatan menghasilkan tangkapan yang didominasi oleh ikan kurisi dengan persentase sebanyak 60,87% diikuti ikan kakap dan ikan yang masuk dalam famili Lutjanidae sebanyak 26,09% dan ikan kerapu dengan persentase 13,04%.

  • Desa Selayar Kabupaten Maluku Tenggara

Hasil tangkapan di perairan Desa Selayar Kabupaten Maluku Tenggara terdiri atas empat famili ikan yaitu ikan kerapu dengan persentase 35,29%, ikan lencam 26,47%, ikan kakap 20,59% serta ikan kuwe sebanyak 17,65%.

  • Kabupaten Konawe Selatan

Hasil dangkapan di perairan kabupaten Konawe Selatan didominasi oleh ikan kurisi sebanyak 44,44% diikuti ikan kuwe dengan persentase 33,33% dan ikan kakap sebanyak 22,22%.

Hasil Tangkapan Rawai Dasar

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Kesimpulan

Kesimpulan dari kegiatan pembuatan dan pengoperasian rawai dasar skala nelayan pesisir berbahan monofilamen dengan posisi umpan diatas dasar permukaan adalah sebagai berikut :

  • Penggunaan bahan-bahan sederhana dalam pembuatan rawai dasar telah menghasilkan hasil tangkapan ikan ekonomis.
  • Penempatan posisi umpan berjarak 1 – 1,25 meter dari permukaan dasar telah menambah varian hasil tangkapan yaitu ikan kuwe (Family Carangidae)
  • Dengan desain konstruksi rawai dasar yang telah dibuat maka fishing power lebih tinggi.
  • Rawai dasar dapat dibuat dengan berbagai teknik dengan terbatasnya varian bahan pembuatan yang tersedia.

 

  • Saran

Hasil percobaan menunjukkan rawai dasar pada percobaan penangkapan ini memiliki fishing power yang cukup tinggi, pada pengoperasian di daerah penangkapan ikan yang memiliki sumber daya ikan yang cukup tinggi seperti di Kabupaten Kaimana dan Desa Weduarfer Kabupaten Maluku Tenggara; sehingga perlu dipertimbangkan dalam pengoperasian rawai dasar dengan konstruksi sebagaimana percobaan ini harus mempertimbangkan ukuran mata pancing dan jumlah mata pancing yang digunakan. Mengingat bahwa pertumbuhan dan rekruitmen ikan demersal lebih lambat dibandingkan ikan pelagis, sebaiknya pengoperasian rawai dasar di daerah pesisir dibatasi jumlah mata pancingnya sehingga sumber daya ikan demersal tidak mengalami penurunan dan perikanan berkelanjutan dapat terwujud.

 

  

DAFTAR PUSTAKA

Ardidja, S. 2010. Bahan Alat Penangkap Ikan. STP Press. Jakarta

BBPI Semarang. 2006. Teknik Merancang dan Menggambar Desain Alat Penangkapan Ikan

Fridman, AL. 1986. Calculations for Fishing Gear Design. FAO.

George, J.P. 1993. Longline Fishing. FAO Training Series no. 22. ISBN 92-5-103078-2. Rome.

KPI. Dasar Tali Temali dan Kerja Geladak.

Prado, J. And Dremiere, P.Y. 1990. Fishermen’s Book. Translated by BPPI Semarang. FAO.

 

Baca Juga

Pergeseran Garis Dasar Beberapa Sumberdaya Perairan Morotai Dalam 20 Tahun Terakhir

Kabupaten Pulau Morotai merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara. Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *