Breaking News
Pengaruh Sea Level Rise Terhadap Ekosistem Terumbu Karang

Pengaruh Sea Level Rise Terhadap Ekosistem Terumbu Karang

Ikan dan Karang

 

 

 

 

 

I. LATAR BELAKANG

Sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga secara alamiah bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari. Hal ini ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis diilayah tropis. Hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumberdaya laut yang memiliki keragaman, baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya lainnya.

Sebagai suatu bangsa bahari yang memiliki wilayah laut yang luas dan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar didalamnya, maka derajat keberhasilan bangsa Indonesia juga ditentukan dalam memanfaatkan dan mengelola wilayah laut yang luas tersebut.Keunikan dan keindahan serta keanekaragaman kehidupan bawah laut dari kepulauan Indonesia yang membentang luas di cakrawala khatulistiwa masih banyak menyimpan misteri dan tantangan terhadap potensinya.

Salah satu dari potensi tersebut atau sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang, apabila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakn dengan pengembangan wisata bahari mempunyai andil yang sangat besar. Karena keberadaan terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata.

Sebagian besar terumbu karang dunia sekitar 55 persen terdapat Indonesia, Philipina, dan Kepulauan Pasifik, 30 persen di Lautan Hindia dan Laut Merah, 14 persen di Karibia dan 1 persen di Atlantik Utara.Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga. Sebagian besar berada di Indonesia bagian tengah, Sulawesi, Bali dan Lombok, Papua, Pulau Jawa, Kepulauan Riau dan pantai Barat serta ujung barat daya Pulau Sumatera.

Indonesia yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, mempunyai terumbu karang terluas di dunia yang tersebar mulai dari Sabang- Aceh sampai ke Irian Jaya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 212 juta jiwa, 60 % penduduk Indonesia tinggal di daerah pesisir, maka terumbu karang merupakan tumpuan sumber penghidupan utama.

Disamping sebagai sumber perikanan, terumbu karang memberikan penghasilan antara lain bagi dunia industri ikan hias, terumbu karang juga merupakan sumber devisa bagi negara, termasuk usaha pariwisata yang dikelola oleh masyarakat setempat dan para pengusaha pariwisata bahari.

Terumbu karang sangat penting untuk masyarakat Indonesia. Terumbu karang terdiri dari banyak binatang dan tumbuhan dan juga dari karang sendiri. Kebanyakan orang hidup dekat pantai, sangat memerlukan ikan, kima, kepiting dan udang barong yang hidup di dalam terumbu karang sebagai sumber makanan mereka.Terumbu karang juga penting karena melindungi rumah, pantai berpasir dan daerah pantai lainnya dari gelombang air laut.

Belakangan ini marak terdengar berita tentang kerusakan karang oleh berbagai penyebab. Termasuk di antara penyebab itu adalah naiknya permukaan air laut.

Kenaikan permukaan air laut menurut beberapa sumber penyebab utamanya adalah mencairnya es di kutub utara karena pemanasan global. Kenaikan permukaan air laut tersebut tentu saja berdampak yang sangat besar tidak saja terhadap kondisi pesisir dan habitat yang terdapat di dalamnya tetapi juga berdampak terhadap berbagai ekosistem yang ada di dalam lautan, di antaranya ekosistem terumbu karang

 

II. TUJUAN

Tulisan ini dikhususkan membahas tentang pengaruh kenaikan air laut terhadap ekosistem terumbu karang. Dimulai dari penyebab terjadinya kenaikan permukaan air laut, apa saja yang terdapat pada ekosistem terumbu karang, dan dampak kenaikan permukaan air laut terhadap organisme yang ada pada ekosistem terumbu karang. Kesimpulan yang akan dicapai adalah sejauh mana dampak yang telah dan akan dialami oleh ekosistem terumbu karang akibat kenaikan permukaan air laut.

 

III. DEFINISI

A. Kenaikan Permukaan Air Laut

Kenaikan permukaan air laut adalah fhenomena global yang muncul bersamaan dengan pembahasan tentang perubahan iklim secara global atau kenaikan suhu global (global warming) di dunia. Berbagai sumber berbicara tentang kondisi ini. Berbagai pendekatan juga dilakukan untuk menemukan kepastian ilmah tentang kenyataan yang dihadapi oleh generasi abad ini dan akan menjadi pekerjaan rumah bagi generasi abad mendatang.

Pemanasan global merupakan kenaikan suhu permukaan bumi. Secara global, suhu permukaan bumi telah mengalami kenaikan sekitar 0,74oC antara awal dan akhir abad ke-20. Perubahan ini berpengaruh besar terhadap iklim bumi. Salah satunya adalah kenaikan permukaan pada samudra dan lautan.

Air lautan akan menyebar dan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut. Pada pertengahan abad ke-20, penyebaran panas menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 2,5 cm. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan sejak 1993-2003 mengindikasikan laju peningkatan rata-rata adalah 3,1mm/tahun. (Bindoff, NL et al., “Observations: Oceanic Climate Change and Sea Level”, Climate Change 2007)

Penyebab alami kenaikan permukaan laut adalah pelelehan es di pulau, air tercipta dari cadangan oksigen dan hidrogen di kerak bumi, air dari dalam ruang, dan ketika daratan runtuh karena penyebaran panas. Ketika gunung berapi meletus, air dari bawah daratan bumi dikeluarkan dalam bentuk uap dan mengalir ke samudra. Kejadian seperti ini berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, walau tidak berpengaruh banyak. Peruntuhan daratan besar-besaran dapat menjadi penyebab kenaikan permukaan air laut. Peristiwa tsunami yang menyanpu daratan dunia merupakan hasil dari peristiwa alam tersebut.

Kenaikan suhu bumi rata-rata menghasilkan peleburan es di seluruh bumi. Glacier dan lapisan es menutupi 10% permukaan bumi. Pada abad ke-20, banyak es meleleh dari yang seharusnya. Contoh yang paling terkenal adalah Gunung Kilimanjoro di Afrika. Pada abad lalu, es dingin berkurang 80% dan sepertinya akan menghilang di dekade berikutnya apabila tingkat kehilangan seperti ini. Efek yang sama terjadi di Alaska, Himalaya, dan Andes. Akibat pelelehan glasir dan permukaan es terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 2,5 cm pada pertengahan abad ke-20.

Efek green house atau rumah kaca menyebabkan kenaikan permukaan air. Menurut para ilmuwan, kenaikan tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia. Gas rumah kaca tercipta dan terlepas akibat aktivitas manusia. Lapisan pelindung bumi dari sinar matahari terpengaruh oleh pembakaran BBM (Bahan Bakar Minyak). Banyak sinar matahari disimpan di dalam atmosfer, sehingga bumi menjadi lebih hangat. Akibat dari kenaikan suhu, banyak daratan es di kutub Utara dan Selatan mulai meleleh sehingga permukaan air laut meningkat lebih cepat dari seharusnya. (Matoa, 2011)

Selama konferensi ilmu geologi Eropa, ilmuwan-ilmuwan memprediksi bahwa mencairnya lapisan es dan memanasnya air laut bisa menaikkan ketinggian air laut sebesar 1,5 meter. Ramalan ini tiga kali lebih besar daripada yang dilaporkan oleh Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (IPCC) tahun lalu. Temuan ini telah menaikkan keprihatinan dari para imuwan maupun para pemerintah dari negara-negara yang ada di tepi pantai dan kepulauan. Dr. Benjamin Fong Chao adalah Dekan dari Institut Ilmu Bumi di Universitas Nasional Pusat di Taiwan serta mantan peneliti di NASA mengatakan: “Salah satu dampak utama dari pemanasan global adalah peningkatan level air laut. Hal ini benar-benar menjadi masalah yang serius karena bagian penting dari peradaban kita berada beberapa meter di atas permukaan laut. Jadi kenaikan air laut berapa pun dan kapan pun akan mempunyai dampak yang besar bagi ekonomi dunia dan kehidupan manusia. Sebagai negara kepulauan, Taiwan seharusnya sangat bersungguh-sungguh dengan masalah ini. Selain itu permukaan laut seperti thermometer yang menunjukkan keseriusan dari pemanasan global. Dalam pandangan itu, masalah kenaikan air laut harus dimonitor dari dekat.” Berdasarkan analisis terakhir yang dilakukan oleh tim Inggris-Finlandia, permukaan laut selama 2000 tahun telah stabil. Pengukuran menunjukkan peningkatan hanya 2 cm di abad ke-18 dan 6 cm di abad ke-19, tapi tiba-tiba menjadi 19 cm atau lebih dari setengah kaki di abad yang lalu. Hal ini karena mencairnya lapisan sungai es. Bagi ahli iklim, angka yang kecil ini sangatlah berarti, dengan implikasi yang lebih kompleks dari yang dimengerti sejauh ini (pemanasanglobal.net)

Desa di Newtok dan 400 penduduk Yupik Eskimo menerima US$3 juta dari negara bagian Alaska, AS untuk membantu merelokasi diri mereka ke tanah yang lebih aman dan lebih tinggi. Dari 213 desa asli di Alaska, kurang lebih 86 persen daerahnya sudah dapat dilihat fenomena mencairnya es secara permanen, es abadi yang tenggelam, banjir besar, badai yang hebat, dan erosi daerah pantai. Enam desa harus mengambil tindakan segera untuk memastikan keselamatan penduduknya. Dengan dana bantuan dari negara bagian, penduduk Yupik Eskimo di Newtok sekarang dapat mulai membangun kembali desa di tanah yang lebih tinggi dan lebih terlindungi. Pemerintah mengalokasikan tambahan US$13 juta untuk perlindungan Desa Yupik yang rapuh di tahun berikutnya.

Karena kenaikan permukaan air laut, 94.000 orang yang tinggal di Pulau Kiribati yang ada di daratan rendah harus memindahkan rumah mereka. Presiden Kiribati, Anote Tong telah menyampaikan ucapan terima kasihnya atas bantuan Selandia Baru yang mengizinkan keluarga Kiribati yang terkena dampak ini untuk berimigrasi dan berharap agar negara lain akan bertindak sama. Selandia Baru dan Kiribati juga telah menandatangani deklarasi bersama yang akan menyediakan Kiribati US$30 juta dalam pendanaan untuk upaya seperti proyek kota yang berkelanjutan.

Perhatian terhadap hal ini juga terjadi di dalam negeri. Pada waktu awal Kementerian Kelautan dan Perikanan (yang awalnya bernama Departemen Kelautan dan Perikanan) terbentuk, yang menjadi kekhawatiran Departemen Kelautan dan Perikanan saat itu adalah jumlah pulau yang hilang diperkirakan semakin menjadi dengan adanya perubahan iklim. Diperkirakan hingga tahun 2030, akan hilang sekitar 2000 an pulau di Indonesia, bila tidak dilakukan pencegahan sedini mungkin. Kembali Hutagalung: “Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut. Di Jakarta saja 5 hinga 8 milimeter tiap tahunnya. Ini serius untuk masa depan. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan 25 tahun ke depan lah, lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam. “Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan perlindungan laut juga merupakan faktor penting dalam memperlambat perubahan iklim. Apalagi, terumbu karang, padang lamun, dan biota laut lainnya dapat menyerap karbondioksida sebanyak 246 juta ton per tahun.

 

B. Ekosistem Terumbu Karang

Salah satu dari potensi sumberdaya hayati lautan yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang,Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga. Sebagian besar berada di Indonesia bagian tengah, Sulawesi, Bali dan Lombok, Papua, Pulau Jawa, Kepulauan Riau dan pantai Barat serta ujung barat daya Pulau Sumatera.

Mengenali Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat (Ca Co3), koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Biasanya tumbuh di dekat pantai di daerah tropis dengan temperatur sekitar 21-30ºC.

Karang adalah bentukan hewan kecil yang hidup dalam semacam cawan yang terbentuk dari kalsium karbonat (lihat gambar) yang biasa disebut polip karang. Jutaan polip-polip ini membentuk struktur dasar dari terumbu karang.

Hewan karang hidup bersimbiosis dengan alga bersel satu yang disebut zooxanthellae. Zooxanthellae merupakan jenis alga dinoflagelata berwana coklat dan kuning, yang dinyatakan sebagai Symbiodinium microadriaticum. Alga ini juga hidup bersimbiosis dengan hewan-hewan lain di terumbu karang, seperti, kima raksasa (Tridacna spp), anemon laut dan coelenterata lainnya.

Hewan karang mempunyai tentakel (tangan-tangan) untuk menangkap plankton sebagai sumber makanannya, Namun, sumber nutrisi utama hewan karang sebenarnya berasal dari proses fotosintesa zooxanthellae (hampir 98%). Selain itu, zooxanthellae memberi warna pada hewan karang yang sebenarnya hampir transparan. Timbal baliknya, karang menyediakan tempat tinggal dan berlindung bagi sang alga.

 

 

 


    Keindahan  Ekosistem Terumbu karang

Terumbu karang merupakan ekosistem yang amat peka dan sensitif sekali. Jangankan dirusak, diambil sebuah saja, maka rusaklah keutuhannya. Ini dikarenakan kehidupan di terumbu karang di dasari oleh hubungan saling tergantung antara ribuan makhluk. Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Tidak cuma itu proses terciptanya pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah. Dan yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam.

Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° – 29° C. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang.

Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 – 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m.

Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh, oleh karena itu, di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.

Sebagai ekosistem terumbu karang sangat kompleks dan produktif dan keanekaraman jenis biota yang amat tinggi. Variasi bentuk pertumbuhannya di Indonesia sangat kompleks dan luas sehingga bisa ditumbuhi oleh jenis biota lain.

Ekosistem ini adalah ekosistem daerah tropis yang memiliki keunikan dan keindahan yang khas, yang pemanfaatannya harus secara lestari. Ekosistem terumbu karang ini umumnya terdapat pada perairan yang relatif dangkal dan jernih serta suhunya hangat ( lebih dari 22 derjat celcius) dan memiliki kadar karbonat yang tinggi. Binatang karang hidup dengan baik pada perairan tropis dan sub tropis serta jernih karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis, sedangkan kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan penyusun karang dan biota lainnya.

Indonesia yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, mempunyai terumbu karang terluas di dunia yang tersebar mulai dari Sabang- Aceh sampai ke Irian Jaya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 212 juta jiwa, 60 % penduduk Indonesia tinggal di daerah pesisir, maka terumbu karang merupakan tumpuan sumber penghidupan utama.

Disamping sebagai sumber perikanan, terumbu karang memberikan penghasilan antara lain bagi dunia industri ikan hias, terumbu karang juga merupakan sumber devisa bagi negara, termasuk usaha pariwisata yang dikelola oleh masyarakat setempat dan para pengusaha pariwisata bahari.

 

Penjelasan umum mengenai ekosistem terumbu karang

Istilah terumbu karang tersusun atas dua kata, yaitu terumbu dan karang, yang apabila berdiri sendiri akan memiliki makna yang jauh berbeda bila kedua kata tersebut digabungkan. Istilah terumbu karang sendiri sangat jauh berbeda dengan karang terumbu, karena yang satu mengindikasikan suatu ekosistem dan kata lainnya merujuk pada suatu komunitas bentik atau yang hidup di dasar substrat. Berikut ini adalah definisi singkat dari terumbu, karang, karang terumbu, dan terumbu karang (gambar 2).

 

 

 

 

           Ekosistem terumbu karang

 

Terumbu / Reef =

Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan moluska.

Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.

Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batu karang atau pasir di dekat permukaan air.

Karang / Coral =

Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Hewan karang tunggal umumnya disebut polip.

Karang terumbu =

Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral).

Berbeda dengan batu karang (rock), yang merupakan benda mati.

 

 

 

 

 

 

Hewan dalam Terumbu Karang

 

Terumbu karang = Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis¬-jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton, (Umar Darlan, 2012).

Habitat

Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut.[1] Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.

Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.

 

Kondisi optimum

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.

Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis. Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, oksigen-oksigen hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya. Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik).

 

Fotosintesis

Proses fotosintesis oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut:

Ca(HCO3) CaCO3 + H2CO3 H2O + CO2

Fotosintesis oleh algae yang bersimbiosis membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae.

 

Manfaat

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusiaadalah:

o sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,

o pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.

o penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.

Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.

 

 

 

 

 

Karang menjadi tempat hidup Ikan-ikan

 

VI.  PENGARUH KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT TERHADAP TERUMBU KARANG

Perubahan iklim akan membawa bencana bagi 41 juta orang Indonesia yang tinggal di daerah pesisir dengan ketinggian di bawah 10 meter. Tenggelamnya tambak ikan dan udang di Karawang dan Subang telah mengakibatkan kerugian sebesar setengah juta dollar Amerika. Kenaikan muka air laut telah menenggelamkan 26 ribu kolam ikan di daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Suhu laut yang meningkat telah merusak terumbu karang di Bali Barat dan Kepulauan Pari pada kejadian El-Nino tahun 1997-1998.

Komunitas pesisir di Indonesia pada umumnya memiliki kapasitas adaptasi yang kecil. Delapan ribu desa pesisir dengan sekitar 16 juta penduduk adalah penduduk miskin dengan indeks kemiskinan sekitar 32%. Komunitas ini sangat rentan karena miskin, hanya memiliki infrastruktur yang terbatas, berpendidikan rendah, memiliki akses yang terbatas pada layanan kesehatan dan layananan lainnya.

A. Mengapa Permukaan Air Laut Mengalami Kenaikan

Penyebab alami kenaikan permukaan laut adalah pelelehan es di kutub utara, air tercipta dari cadangan oksigen dan hidrogen di kerak bumi, air dari dalam ruang, dan ketika daratan runtuh karena penyebaran panas. Ketika gunung berapi meletus, air dari bawah daratan bumi dikeluarkan dalam bentuk uap dan mengalir ke samudra. Kejadian seperti ini berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, walau tidak berpengaruh banyak. Peruntuhan daratan besar-besaran dapat menjadi penyebab kenaikan permukaan air laut. Peristiwa tsunami yang menyanpu daratan dunia merupakan hasil dari peristiwa alam tersebut.Kenaikan suhu bumi rata-rata menghasilkan peleburan es di seluruh bumi. Glacier dan lapisan es menutupi 10% permukaan bumi, (Matoa, 2011)

Perubahan jangka pendek dan periodik

Ada beberapa faktor yang dapat menghasilkan perubahan jangka pendek permukaaan air laut (dari orde beberapa menit hingga 14 bulan).

 

 

Perubahan jangka panjang

Perubahan muka air laut dan temperatur relatif

Bermacam-macam faktor memengaruhi volume dan massa lautan yang mengakibatkan perubahan muka laut eustatik dalam jangka panjang. Dua pengaruh paling utama adalah temperatur (karena volume air bergantung pada temperatur), dan massa air yang tersimpan di darat dan laut sebagai air segar (fresh water) di sungai, danau, glasier, tutupan es di kutub, dan es di lautan. Pada skala waktu yang panjang (skala geologis), perubahan bentuk samudera dan distribsi daratan/lautan akan mempengaruhi tinggi muka laut.

Hasil pengamatan memperkirakan bahwa peningkatan muka laut akibat meningkatnya temperatur adalah sekitar 1 mm/tahun di dekade terakhir ini. Studi yang didasarkan pada pengamatan dan pemodelan hilangnya massa glasier dan tutupan es menunjukkan sumbangannya terhadap naiknya muka laut rata-rata sebesar 0,2 s.d. 0,4 mm/tahun pada abad ke-20.

 

Glasier dan tutupan es

Setiap tahun sekitar 8 mm air dari seluruh permukaan laut mengalir ke lempengan es Antartika dan Greenland sebagai hujan salju. Jika tidak ada dari es itu yang kembali ke laut, maka muka laut akan turun 8 mm setiap tahunnya. Meskipun air dalam jumlah yang hampir sama kembali ke laut dalam gunung es dan dari melelehnya es di tepinya, para ilmuwan tidak tahu mana yang lebih besar – es yang masuk atau es yang keluar. Perbedaan antara input dan output es disebut sebagai kesetimbangan massa (mass balance). Kesetimbangan ini sangat penting karena menyebabkan perubahan muka laut global.

Paparan-paparan es (ice shelves) yang melayang di permukaan laut jika mencair tidak akan mengubah permukaan laut. Demikian juga halnya dengan mencairnya tutupan es di kutub utara yang terdiri dari kumpulan es yang melayang yang tidak akan menaikkan muka laut secara signifikan. Hal ini terjadi karena yang mencair adalah air segar yang meskipun akibat mencairnya mereka dapat menaikkan permukaan laut, namun ordenya cukup kecil dan umumnya dapat diabaikan. Namun demikian hal itu dapat juga dibantah dengan menyatakan bahwa jika paparan es mencair, maka ia adalah sebuah pertanda dari mencairnya lempengan es di Greenland dan Antartika.

Jika semua glasier dan tutupan es mencair, kenaikan muka laut diproyeksikan sekitar 0,5 m. Jika pencairan juga terjadi pada lempengan es di Greenland dan Antartika (keduanya memiliki es di atas permukaan laut), maka kenaikan akan menjadi lebih drastis lagi, 68,8 m. Keruntuhan reservoir interior lempengan es Antartika Barat akan menaikan permukaan laut setinggi 5-6 m.

 

 

 

 Kenaikan air laut dalam 20 tahun terakhir (1980-2000) ada penambahan sekitar 20,3 cm per abad atau 2 mm/tahun.                  Sumber: Wikipedia

 

 

 

B. Kenaikan Suhu dan Permukaan Air Laut dan Dampaknya Terhadap Terumbu Karang

Dengan adanya pemanasan global suhu permukaan air laut menjadi lebih hangat, sehingga meningkatkan tekanan bagi ekosistem laut seperti batu karang yang menjadi putih. Pada proses ini karang-karang melepaskan ganggang yang memberikan warna dan makanan pada karang, sehingga karang menjadi putih dan mati. Peningkatan suhu air juga membantu menyebarkan penyakit-penyakit yang sangat mempengaruhi kehidupan mahkluk-mahkluk di dalam laut. Coral atau dalam bahasa Indonesianya terumbu karang merupakan kerajaan kehidupan yang sangat kaya warna. Sebuah terumbu berisi jutaan jaringan alga bersel satu yang disebut zooxanthelae. Keduanya bersimbiosis dan membentuk sebuah karang yang indah. Alga berfotosintesis menghasilkan makanan bagi sang terumbu dan terumbu menjadi rumah bagi alga.

Pemutihan karang (coral bleaching) merupakan salah satu efek dari Global Warming. Pemutihan karang adalah perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat. Pemutihan karang dapat mengakibatkan kematian pada karang.

Akibat dari kematian alga yang bernama zooxanthellae, jaringan terumbu menjadi menjadi pudar sehingga warna putih kalsium karbonat yang seperti tulang kelihatan. Peristiwa itulah yang disebut bleaching atau pemutihan. Mirip seperti kita mencuci baju yang terkena noda dengan cairan pemutih. Dalam tekanan lingkungan yang normal, terumbu bisa pulih dan alga akan tumbuh lagi< seperti sediakala. Tapi ketika pencemaran semakin parah, terumbu dapat terancam mati secara massal. Butuh bertahun-tahun untuk mengembalikan kondisi seperti semula. (Safran Yusri, 2012).

Isu pemanasan global, di mana rata-rata suhu global meningkat 0,6 ± 0,2 derajat celsius dan diprediksi akan meningkat 1,5-4,5 derajat celsius pada abad ini, merupakan ancaman bagi ekosistem terumbu karang. Menurut Rosenberg dan Ben Haim (2002), beberapa penyakit karang merupakan hasil ekspresi gen-gen penyebab penyakit karang yang dipicu kenaikan suhu air laut.

Beberapa jenis penyakit karang yang menyerang karang, antara lain, pemutihan karang Oculina patagonica, aspergilosis yang menyerang Gorgonia ventalina, white band yang menyerang karang Acropora cervicornis, pelak putih yang menyerang Diploria strigosa dan Favia favius, cacar putih pada Acropora palmata, yellow blotch disease pada Monastraea faveolata, serta black band pada Diploria strigosa, (Ocky Karna Radjasa, 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

Bleaching (pemutihan karang) karena rusak

 

Ancaman terhadap terumbu karang biasanya disebabkan oleh polusi dari pupuk, limbah, racun buatan manusia, sedimentasi dan eksploitasi yang berlebihan. Sedangkan ancaman secara globalnya adalah kenaikan suhu air laut. Karena terumbu hidup di wilayah yang berada di atas batas temperatur di pesisir-pesisir pantai. Sehingga perubahan suhu yang kecil sekalipun, 1-2 derajat celsius saja dalam beberapa minggu dapat mengakibatkan kematian. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 30 derajat selsius. Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana ia hidup. Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup dimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak.

Oleh karena itu kesadaran lingkungan akan bahaya gas karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fossil sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian, kenaikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer kita yang mengakibatkan kenaikan suhu permukaan air laut merupakan salah satu penyebab dari kematian terumbu karang dalam 3 dekade terakhir.

Efek berikutnya dari kematian terumbu karang adalah berubahan komposisi ekosistem terumbu. Yang selanjutnya mengakibatkan perubahan berantai seluruh laut. Terumbu karang telah bertahan dari perubahan lingkungan selama jutaan tahun. Namun laju perubahan lingkungan global dewasa ini dapat terjadi dalam kecepatan yang tak terduga akibat aktifitas manusia. Sehingga nasib terumbu karang di masa depan akan semakin tak menentu. (Safran Yusri, 2012)

Apakah pemutihan karang itu?

Pemutihan karang adalah perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat. Pemutihan karang dapat mengakibatkan kematian pada karang. Antara bulan Maret dan Mei 1983 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengamati peristiwa pemutihan karang besar-besaran dengan tingkat kematian yang luas mulai dari Selat Sunda (Jawa Barat), Kepulauan Seribu (Jakarta) sampai Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah).

Sejak saat itu terjadi lagi peristiwa pemutihan karang secara global pada tahun 1998, dimana lebih dari 55 negara mengalami tingkat pemutihan dan kematian karang yang tinggi. Sebanyak 90% karang mati akibat pemutihan pada 1998 di Sumatera Barat dan Kepulauan Gili, Lombok. Karang di wilayah Indonesia yang lain juga banyak yang terkena pemutihan. Karena karang memegang peranan penting yakni sebagai rangka dari pembentukan terumbu karang dan pulau karang, organisme terumbu karang dan juga perikanan sangat tergantung hidupnya pada karang yang sehat.

Peristiswa pemutihan sering dihubungkan dengan gangguan lingkungan seperti naiknya suhu air laut. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 30 derajat selsius. Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana ia hidup. Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak. (Safran Yusri, 2012)

Dapatkah karang pulih kembali dari pemutihan?

Ada perbedaan diantara spesies dan polulasi dalam merespon penyembuhan dari pemutihan. Beberapa karang dapat sembuh dan tumbuh normal lagi ketika penyebab pemutihan hilang dan dapat mengumpulkan kembali zooxanthellae-nya. Karang akan kembali ke warna semula apabila penyebab pemutihan hilang, tetapi akan mati apabila penyebabnya terus berlangsung. Oleh karena itu, pemulihan karang dari pemutihan juga tergantung dari durasi dan tingkat gangguan lingkungan.

 

C. Dampak Lanjutan Dari Rusaknya Karang Akibat Kenaikan Permukaan Air Laut

Salah satu bentuk kerugian/kehilangan yang dapat terjadi di kawasan pantai adalah akibat dari kenaikan air laut. Kehilangan/lost dapat terjadi pada kawasan sebagai akibat kenaikan air laut di pantai dimana kerusakan maupun kerugian dalam kegiatan pariwisata meliputi kerugian atau lost yang diartikan sebagai hilangnya nilai – nilai baik nilai keindahan, kenyamanan dan hal lain akibat tidak dapat berlangsungnya aktivitas wisata maupun aktivitas soaial budaya yang mendukungnya, kenyamanan wisata karena kejadian tersebut, adanya biaya tambahan yang harus dikeluarkan karena adanya suatu kejadian yang mengganggu aktivitas wisata dan hilangnya kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. (Astuti, 2002).

Kerusakan karang

 

 

 

 

 

 

 karang yang sudah rusak

 

V. SARAN DAN REKOMENDASI

Kerusakan yang telah terjadi secara global menjadi problem global pula yang tidak hanya dipikirkan oleh Indonesia dan Negara-negara yang tergabung dalam CTI. Hal itu karena keasadaran bahwa kelangsungan hidup karang dan pengaruh keberadaannya terhadap kehidupan di dalam lautan dan di atas daratan sangat vital. Berbagai penelitian terus dilakukan oleh para ahli di dunia, dan melahirkan beberapa rekomendasi berikut :

1. Segenap pihak harus menyadari kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km2. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia. Dewasa ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat. Terumbu karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%. Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami. Meskipun faktanya kuantitas perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih tinggi karena buruknya sistem penanganannya.

 

2. Selain pengaruh pemanasan global (alam) terdapat berapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang yaitu:

o membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut

o membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang

o pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke laut.

o penggunaan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga.

o Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.

o terdapatnya predator terumbu karang, seperti sejenis siput drupella.

o penambangan

o pembangunan pemukiman

o reklamasi pantai

o polusi

o penangkapan ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan

3. Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa : Tidak sedikit orang mengira jika pelestarian karang di lautan tidak berpengaruh terhadap kehidupan di dataran dan hanya berefek terhadap ekosistem pesisir, pantai, atau lautan. Ternyata perkiraan tersebut salah besar. Sebuah studi di Karibia telah menemukan bahwa terumbu karang mampu memulihkan efek pemanasan global, seperti pemutihan karang.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa aksi lokal mengurangi efek penangkapan ikan mampu berkontribusi sangat baik terhadap kematian karang. Cadangan disediakan sejumlah ikan kakatua (Scarus frenatus) untuk meningkatkan dan karena ikan kakatua memakan rumput laut, karang dapat tumbuh dengan bebas tanpa dibanjiri rumput laut. Akibatnya, karang di dalam taman menunjukkan pemulihan sedangkan karang yang memiliki rumput laut lebih banyak tidak menunjukkan pemulihan. Bukti-bukti ini mungkin membantu mengajak pemerintah untuk mengurangi penangkapan ikan herbivora seperti ikan kakatua dan membantu terumbu karang mengatasi ancaman tak terelakkan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim,” kata Dr. Peter Mumby dari University of Exeter dalam pres rilis.

4. Perlu dilakukan upaya adaptasi yang meliputi pembangunan struktur dan non-struktur. Pendekatan dalam memperbaiki karakteristik fisik meliputi metoda perlindungan alami (mangrove, dumuk pasir dan terumbu karang) dan metoda buatan manusia (breakwater, dam, perlindungan konstruksi, rumah yan ditinggikan dan terumbu buatan). (Martha Maulidia)

5. Mengupayakan berbagai macam tindakan-tindakan pengelolaan untuk pelestarian terumbu karang yaitu ditinjau dari berbagai macam konteks seperti di bawah ini:

Daerah Perlindungan Laut (DPL)

Pengidentifikasian wilayah-wilayah terumbu karang yang kurang rusak dan meninjau ulang system zonasi dan batasan-batasan.

o Menjamin bahwa DPL dikelola secara efektif.

o mengembangkan pendekatan lebih strategis untuk mendirikan system DPL.

Perikanan

– Mendirikan zona dilarang memancing dan pembatasan alat perikanan.

– Mempertimbangkan ukuran perlindungan tertentu untuk:

– Pemakan alga (ikan kakaktua dan ikan butana) yang berperan penting untuk mempertahankan substrat yang tepat bagi penempatan larva karang.

– Ikan pemakan karang (ikan kupu-kupu dan ikan damsel) yang ditangkap untuk perdagangan akuarium, mungkin berkurang populasinya karena habitat dan sumber makanannya telah menurun)

6. Pengelolaan yang hati-hati dapat membantu, dengan mengurangi dampak negatif atau dengan memperbaiki keadaan bagi pemulihan. Hal itu bisa dilakukan melalui pemberlakuan peraturan yang melarang praktek penangkapan ikan yang merusak dengan :

o Memonitor komposisi dan ukuran penangkapan.

o Mengembangkan mata pencaharian alternatif bagi komunitas nelayan bila diperlukan.

o Membatasi masuknya nelayan baru ke daerah penangkapan ikan dengan sistem pemberian ijin.

o Mengatur pengambilan biota-biota terumbu karang untuk akuarium dan cindera mata.

 

Ambon, 2012

Disusun oleh Agussalim, Widyaiswara BPPP Ambon

REFERENSI

 

Aji Wihardandi. 2012. 80% Terumbu Karang Dunia Terancam. Mongabay.co.id

Astuti, Sri. 2002. Pengaruh Kenaikan Air Laut Pada Wisata Alam Kawasan Pantai. Makalah dalam Seminar DAMPAK KENAIKAN MUKA AIR LAUT PADA KOTA-KOTA PANTAI DI INDONESIA, Bandung 12-13 Maret 2002,Bandung.Pusat Litbang Permukiman, Badan Litbang Dep. Kimpraswil

Jean Rizal Layuck .2012.33 Persen Terumbu Karang di Indonesia Rusak. Kompas.com

 

Martha Maulidia. Kenaikan Paras Air Laut dan Dampaknya terhadap Kehidupan Pesisir. Iklimkarbon.com.

Matoa. 2011. Efek Pemanasan Global Terhadap Kenaikan Permukaan Air Laut. Green Magaz. www.matoa.org,

Matoa. 2012.Terumbu Karang: Jika Dilindungi, Efek Pemanasan Global Dapat Dipulihkan.Mongabay.com

Ocky Karna Radjasa, 2012. Pemanasan Global Rusak Karang. Kompas.com

Safran Yusri. 2011. Pemutihan Karang : Ancaman Bagi Terumbu Karang Indonesia. www.terangi.com

Safran Yusri. 2012.Analisis Global Efektivitas Kawasan Konservasi Laut dalam Mencegah Kerusakan Karang. www.terangi.com

Wikimu.com. 2006. Gangguan Kehidupan Laut. http://nonuwie.multiply.com/journal.

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Kenaikan Permukaan Laut Dunia. http://www. pemanasanglobal.net

Umar Darlan. 2012.Terumbu Karang Potensi Besar Bagi Negara Bahari. Buletin Oseanografi. www.dishidros.go.id

Disusun Oleh Agussalim (Widyaiswara BPPP Ambon)

 

 

 

 

 

I.       

About Agussalim Abdurrachman, SPi

Muh. Agus Abdurrachman adalah Widyaiswara di Balai Pendidikan & Pelatihan Perikanan Ambon, Kementerian Kelautan & Perikanan RI. Telah berpengalaman memberikan pelatihan di BPPP Ambon serta menjadi penulis utama di website ini.

One comment

  1. dareztumblr@gmail.com'

    jika intensitas hujan tinggi di wilayah pesisir terjadi, dampaknya pasti akan membuat salinitas turun, kira-kira biota lautnya akan cenderung naik ke permukaan atau turun kedasar laut? terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>