BPPP Ambon Breaking News
Home » Berita » Kaimana Berlatih Teknologi Tepat Guna Perikanan Water Chiling dan Asap Cair di BPPP Ambon

Kaimana Berlatih Teknologi Tepat Guna Perikanan Water Chiling dan Asap Cair di BPPP Ambon

Selasa, 19 Maret 2019, di Ruang Serbaguna BPPP Ambon, berlangsung Pembukaan Pelatihan Teknologi Tepat Guna Water Chiling dan Pengolahan Ikan Menggunakan Asap Tempurung. Pelatihan ini adalah kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana dengan BPPP Ambon. Pelatihan ini diikuti oleh 10 orang PNS dari Dinas Perikanan Kabupaten Kaimana. Turut hadir mendampingi para peserta pelatihan, pejabat yang mewakili Dinas Perikanan Kaimana adalah Kepala Bidang Pengolahan, Herlina. Pelatihan ini dibuka secra resmi oleh Kepala BPPP Ambon, Praatma Prihadi, didampingi para Pejabat Eselon IV dan para fungsional pelatih.

Dalam sambutannya, Pak Ari, sapaan akrab Kepala BPPP Ambon menyatakan “saya mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kaimana yang telah mengirim aparatur untuk berlatih di sini, karena selama ini yang biasa dikirim untuk belajar dan berlatih adalah non aparatur yakni pelaku utama perikanan. Hal ini baik karena pegawai di Dinas Perikanan tidak semuanya berlatar keilmuan perikanan sehingga sering mengalami hambatan dalam mentransformasi kebijakan dari Dinas ke masyarakat”. Selain itu Pak Ari juga menambahkan bahwa pengolahan adalah memberi nilai tambah pada produk. Sehingga keterampilan pengolahan sangat bermanfaat untuk disampaikan kepada masyarakat. Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu. Menurut Pak Ari yang terpenting bukan cara membuat tetapi yang utama adalah pasar. Sehingga akses pasar adalah tantangan setelah mampu membuat produk. Jika produksi bisa dipasarkan keluar Kaimana maka produk olahan Kaimana akan eksis di Wilayah Timur. Jadi tugas kita adalah mencari pasar untuk produk-produk perikanan, baik budidaya maupun hasil olahan. Sehingga dari sudut pandang ini maka yang diproduksi sebaiknya adalah apa yg dibutuhkan konsumen. Demikian paparan Pak Ari.

Preservasi dengan pendingin adalah hal yang sering diabaikan dalam pengelolaan perikanan. Palka pendingin di kapal nelayan seharusnya bersuhu antara 0oC sampai 50C, untuk menjaga kualitas ikan tetap berada di grade A.  Masalah besar yang dialami oleh nelayan di Kaimana dan daerah lainnya adalah sistem pendinginan hanya pake coolbox. Dimana kita tahu bahwa daya tahan es pada coolbox itu terbatas sehingga berefek pada kerugian bagi nelayan. Contoh kasus pada nelayan ikan tuna yang  hasil tangkapannya seharusnya grade A yang bisa memperoleh harga Rp.63.000,- turun menjadi grade C  dengan harga sekitar Rp.21.000,- ketika sampai di tangan pembeli. Terjadinya perubahan suhu pada coolbox berakibat pada penurunan mutu ikan sehingga berefek pada penurunan harga. Berdasarkan hasil perhitungan, sekitar Rp. 480.000,- per trip (harian) per armada hilang karena sistem pendinginan, yakni pada opportunity cost dan karena penurunan mutu. Jika angka tersebut dikalikan dengan jumlah nelayan di suatu tempat maka angkanya sangat fantastis. Oleh karenanya BPPP Ambon berinisiatif menemukan teknologi pendingin di kapal/perahu nelayan agar kerugian tersebut bisa diminimalisir.  Hal inilah yang menarik bagi Dinas Perikanan Kaimana sehingga melakukan kerjasama pelatihan dengan BPPP Ambon.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengolahan Dinas Perikanan Kaimana, Herlina, menyampaikan apresiasi yang besar kepada BPPP Ambon atas penerimaan yang hangat dari seluruh pihak di Balai. Harapannya hal ini menjadi awal yang baik untuk membangun kerjasama memajukan sumber daya manusia yang kompeten di bidang perikanan di Kaimana, untuk kemajuan sektor kelautan dan perikanan Kaimana ke depan.

Selain berlatih tentang water chiling peserta pelatihan juga kan berlatih mengenai asap cair. Asap cair adalah teknologi pengolahan pangan yang food grade, dimana tempurun kelapa dirubah menjadi asap cair melalui proses pirolisis dan difilter sehingga zat karsinogen dari bahan untuk pembakaran berupa tempurung kelapa tersebut sudah dipisahkan. Kemajuan BPPP Ambon adalah mampu memproduksi asap cair dari bahan tempurung kelapa, juga mampu memproduksi produk ikan olahan menggunakan asap cair, bahkan yang lebih maju lagi adalah mampu memproduksi mesin asap cair yang lebih efektif dan lebih efisien dibandingkan mesin sejenis yang ada di pasaran nasional. 

Kami berharap melalui pelatihan ini dan melalui kerjasama yang berkelanjutan, Kaimana bisa menjadi pilot project di Papua Barat, untuk kemajuan perikanan, dengan menerapkan teknologi tepat guna yang dipelajari di BPPP yang dimulai saat ini. Demikian Pak Ari menutup sambutannya.

 

Baca Juga

Tahun Baru 2019 Semangat Baru, Bersama Membangun BPPP Ambon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *