Home » Berita » Kkp Komitmen Tingkatkan Mutu Mutiara Indonesia

Kkp Komitmen Tingkatkan Mutu Mutiara Indonesia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen untuk terus memafsilitasi dan mendorong peningkatan kualitas dan mutu mutiara laut selatan (SSP) sehingga dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh dunia internasional.

“Kita  berkomitmen untuk terus menjaga keberlangsungan  para pengusaha mutiara, yakni dengan memfasilitasi sarana, prasarana dan kebijakan untuk meningkatkan kualitas dan mutu mutiara lokal,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo usai meresmikan acara “Indonesian Pearls Festival II – 2012” di Jepara Executive Lounge, Balai Kartini, Jakarta (1/11).
Sharif menjelaskan, untuk mendukung hal tersebut KKP telah membangun broodstock (pusat pengembangbiakan) kerang mutiara di Karangasem, Bali.
 “Para pelaku usaha kecil dan menengah bisa mendapatkan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas dan mutu mutiara mereka,” jelas Sharif.
Selain itu, untuk memfasilitasi penjualan mutiara, KKP tengah membangun gedung pusat promosi dan pelelangan mutiara internasional di lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Fasilitas yang menelan biaya Rp5 miliar itu dibangun untuk memberikan kepastian bagi kalangan pengusaha dalam mendapatkan komoditas mutiara  baik dari segi kualitas maupun kuantitas,”sambungnya.
Di samping itu, KKP tengah merampungkan instrumen berupa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan  untuk mengatur dan mengendalikan mutu mutiara yang masuk ke Indonesia.
“Regulasi ini kita siapkan untuk meredam laju masuknya mutiara asal China yang kualitasnya tergolong rendah dibandingkan  dengan Mutiara laut selatan(SSP) yang berasal dari kawasan perairan Indonesia,”jelasnya.
Sharif menjelaskan, impor mutiara dari negara lain yang tidak memenuhi standar akan kita berlakukan dengan aturan yang mengacu pada standar internasional.  ” Kita targetkan akhir tahun  ini Peraturan Menteri tersebut rampung,” jelasnya.
Sehubungan dengan itu, KKP mendorong para pelaku usaha mutiara dapat mengadopsi Standar Nasional Indonesia (SNI). Pasalnya, mutiara yang telah mengantongi SNI diyakini bakal mendongkrak harga mutiara lokal serta membuka akses pasar yang lebih luas. Lantaran, sebagian besar produksi mutiara Indonesia ditujukan untuk pangsa ekspor.
Hal senada disampaikan, Dirjen P2HP Saut P.Hutagalung. Ia menjelaskan,  KKP berkonsentrasi  untuk memajukan mutiara laut selatan  dengan regulasi dan perbaikan kualitas mutiara di hulu-hilir.
 “Kita telah dan akan terus memfasilitasi dan membina para pelaku usaha mutiara dengan menyiapkan registrasi unit penanganan pengolahan hasil perikanan nonkonsumsi (UUPN), pelatihan-pelatihan khusus dan bimbingan teknologi untuk menggenjot kualitas dan mutu mutiara SSP,” jelasnya.
Di lain sisi Saut menekankan pentingnya dalam penanganan pasca panen mutiara.” KKP akan mengkonsolidasi kanpara pelaku usaha agar ketika waktu panen mutiara  tiba, jangan sampai dilepas ke pasar secara besar-besaran sehingga dapat menjatuhkan harga mutiara,” paparnya.
Kendati demikian, Saut menyatakan optimismenya, laju ekspor mutiara akan terus meningkat dengan diikuti kenaikan rata-rata 15 persen tiap tahunnya.
Bisnis mutiara sangatlah menjanjikan, menurut data UN Comtrade (2012) nilai perdagangan mutiara Indonesia di dunia pada tahun 2011 mencapai 31,8 juta dollar AS.
Sementara untuk Peraturan Menteri tentang pengendalian mutu. Saut menjelaskan pengendalian mutu tersebut akan mengatur masuknya mutiara  dari negara lain yang di dasarkan pada standar grade 1 sampai 3.
Saut  memandang penting daya dukung lingkungan yang baik untuk menghasilkan indukan mutiara yang unggul. Menurutnya sistem zonasi (tata ruang) dalam budidaya mutiara merupakan hal penting untuk menghasilkan kualitas mutiara yang baik.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Budidaya Mutiara (Asbumi) Anthony Tanios mengungkapkan, mutiara laut selatan (SSP) asal Indonesia tengah menghadapi persaingan ketat dengan mutiara asal Australia dan juga mutiara air tawar murah dari China.
Namun demikian , Anthony mengaku optimis, ekspor Mutiara Indonesia  tetap kinclong karena tertolong oleh naiknya permintaan mutiara dari negara-negara Asia seperti India dan China.
“Selama ini mutiara laut selatan kita ekspor  ke Hong Kong, Jepang dan Eropa. Hong Kong dulu baru ke Amerika. Namun dengan stabilnya perekonomian Asia, maka permintaan mutiara untuk kawasan Asia meningkat secara signifikan yang  kami jual ke China, India,” pungkasnya.

Baca Juga

Pelatihan Pariwisata Berkelanjutan di Tobololo Kota Ternate

Sabtu 20 Juli 2019, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan sukses menyelenggarakan sebuah pelatihan jenis baru …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

Layanan Online BPPP AMBON!

Klik staf Layanan kami di bawah untuk Chat di WhatsApp atau kirim email ke [email protected]

× Chat BP3 AMBON